Kamis, 28 Oktober 2010

Nostalgia

Dua hari lalu kelas 9G, kelasku pas SMP, ngadain suatu acara ngumpul - ngumpul. Agak aneh kalo dibilang reunian, karena toh kita baru 5 bulan lulus. Hahaha. Tapi biar sudah 5 bulan, hasrat ingin merasakan kembali euforia bareng, susah ditahan. Berkumpulah kami di rumah seorang temanku yang punya halaman besar (setidaknya, cukup untuk joget massal).

Dannn, acara ini pun tidak lepas dari masalah. Sejak terakhir berkumpul di rumah itu setahun lalu, masalahnya sama. Tentang pembagian tugas kerja. Si A kerjanya di sini, si B kerjanya di alat panggang, dan sebagai berbagai - bagainya. Bahkan ada teman yang pulang saat acara belum dimulai. Oh ironis, kita kan belum manggang - manggang, men. . .


Temanku yang jadi tuan rumah, sudah ngerasa 'ga enak' sejak acara pertama: memancing di empang rame - rame.

Memang sudah rencana awal kita untuk memancing dan mendapatkan ikan segar, tapi dengan lagak gengsi, ada yang nyeletuk, 'ngapain mancing di empang!' Sontak, tuan rumah/pemilik acara naik darah. Tapi disimpan sampai saatnya tiba untuk marah - marah.

Anehnya,yang nyeletuk tadi malah ikutan mancing dengan hepi. 'Tadi protes, sekarang ikut mancing! Apaan tuh!' kata yang lagi naik darah.

Yang nyeletuk, diam 3 bahasa. (Setahuku, dia hanya bisa 3 bahasa: indo, bali, inggris)

Setelah selesai memancing dan kembali ke rumah untuk acara, tuan rumah mulai meledakkan amarahnya. Ini dipicu karena ga ada yang bantu ngangkat panggangan. Padahal ini berat. Bekasnya ngaduk semen, dibersihin dulu, terus aku dan tiga teman cowok lainnya menggotong ke TKP.

Di tempat parkir, tempat yang lain pada duduk - duduk ngerumpi..

"Ini yang kalian sebut reuni hah!? Tinggal ikutin acara aja kok repot! Udah gitu ga mau bantu! Ini yang kalian bilang reuni!?"
 Sedangkan aku berusaha menenangkan temen yang lagi ngamuk - ngamuknya ini, 'Udah, Tih..sabar..kita - kita aja yang kerja sudah..'

Naga yang ngamuk ini, akhirnya diam. Lanjut kerja.

Begitu seterusnya sampai acara selesai. Bahkan, bukannya mencoba untuk perhitungan, yang kerja malah kebagian makanan yang lebih sedikit. Cewek - cewek yang memasak, menyiapkan piring, membagikan nasi, sehingga terpaksa mendapat jatah terakhir, yang tentu seperti biasanya, jatah terakhir itu sedikit porsi lauknya.

Aku jujur iba dengan mereka. Mereka nampak ikhlas mengambil sisa - sisa lauknya. Memakannya dengan penuh tawa kebersamaan ditemani teman - teman sepermainan selama 3 tahun. Yah walau sedikit mengomel. Hahaha. Aku juga ngomel sih. Kan senasib.

Di akhir acara, aku pergi ke masjid bersama 3 teman ku, yang 2 di antaranya ikut berkeringat tadi. Sambil jalan, muncul usul:
"Mending lain kali kita ajak yang konsisten aja. Yang bisa diajak kerjasama. Gimana? Paling cuma 10 dari 44 anak."

Saran yang bagus, tapi ga seru kalo cuma sepuluh anak. :D

------------

Beralih dari yang di atas, aku buat blog baru. Namanya tole anak sekolahan . Lah? Blog satu ini aja belum kamu urus, ngapain buat blog lagi?

Jawabnya, karena aku orangnya gampang bosan. Jadi suka coba - coba gitu. Hehehe. Kebetulan, ini dari blogdetik.com yang dari namanya saja, keliatan kalo ini buatan Indonesia.

Kenapa tidak coba buatan Indonesia?

3 komentar:

  1. Dek, dari pengalaman saya, saban bikin reuni yang melibatkan 40-an orang, yang kerja pasti orangnya memang cuman 2-3 orang. Itu biasa, coz dalam kelompok apapun, pasti ada orang-orang dengan tipe-tipe tertentu: Seksi sibuk, seksi cerewet, seksi disuruh-suruh, seksi penggembira, sampek seksi nggak dateng.

    Dibawa fun aja. Saya sih selalu bikin reuni yang gampang: Ketemuan janjian makan di food court plaza manaa gitu, bayarnya sendiri-sendiri..

    BalasHapus
  2. yah emang reunian tuh gampang-gampang susah ngumpulinnya...

    tapi sekalinya ngumpul dan rame mesti seruuu banget.

    Kemana aja wir?.. jarang nongol neh..

    BalasHapus
  3. huaaaa....jadi pingin nostalgia ma kawn2 lagi...
    maksih dah berkunjung ya sob^^

    BalasHapus