Aku melamun di kursi bis
Membayangkan bertemu seorang perempuan
Berkerudung pink dengan sikap yg manis
Bibirnya mungil, kalau senyum menyejukkan
Wajahnya cerah
Biasanya dimiliki bila taat beribadah
Ternyata Si Kerudung Pink benar-benar exist
Aku bertemu dia di atas bis.
Untuk sepersekian detik pandangan kami bertabrakan
Tapi hatiku tidak nyaman, kepalaku segera aku tundukan
Parasnya ayu, aku terlalu malu untuk melihat matanya
Apalagi kalau harus mendekat sambil tanya - tanya
Bisa - bisa dikira orang berbahaya
Jadinya aku heran
Apa angan - anganku jadi kenyataan?
Atau tadi itu firasat?
Firasat dan khayalan kan tidak bersekat
Ternyata dia tidak turun di Banyuwangi
Kutengok ke belakang sudah tidak ada
Padahal masih ada rasa penasaran di hati
Aku bahkan tidak tau namanya
Ya sudah, anggap saja ini cuma kebetulan
Kalau kelak bertemu lagi, entah apa aku masih punya ingatan
Tujuan masih jauh, mending aku tiduran
Berusaha menikmati perjalanan
*di adopsi dari kisah nyata perjalanan naik bis Restu Probolinggo-Banyuwangi. Tanpa special effect atau hujan-hujanan (kayak di sinetron itu, cak!). Perhatian: Tidak ada penumpang yg dicurhatin setelah pembuatan cerita ini.
Akhir dari yg di atas, saya nyampe di Bali setelah liburan 1 bulan di tanah kelahiran (HORRE!!). You know? Datang ke Jawa serasa bertamu, datang ke Bali serasa pulang. Di mana kita tumbuh besar dan memiliki banyak teman, di situlah rumah kita. :)
Membayangkan bertemu seorang perempuan
Berkerudung pink dengan sikap yg manis
Bibirnya mungil, kalau senyum menyejukkan
Wajahnya cerah
Biasanya dimiliki bila taat beribadah
Ternyata Si Kerudung Pink benar-benar exist
Aku bertemu dia di atas bis.
Untuk sepersekian detik pandangan kami bertabrakan
Tapi hatiku tidak nyaman, kepalaku segera aku tundukan
Parasnya ayu, aku terlalu malu untuk melihat matanya
Apalagi kalau harus mendekat sambil tanya - tanya
Bisa - bisa dikira orang berbahaya
Jadinya aku heran
Apa angan - anganku jadi kenyataan?
Atau tadi itu firasat?
Firasat dan khayalan kan tidak bersekat
Ternyata dia tidak turun di Banyuwangi
Kutengok ke belakang sudah tidak ada
Padahal masih ada rasa penasaran di hati
Aku bahkan tidak tau namanya
Ya sudah, anggap saja ini cuma kebetulan
Kalau kelak bertemu lagi, entah apa aku masih punya ingatan
Tujuan masih jauh, mending aku tiduran
Berusaha menikmati perjalanan
*di adopsi dari kisah nyata perjalanan naik bis Restu Probolinggo-Banyuwangi. Tanpa special effect atau hujan-hujanan (kayak di sinetron itu, cak!). Perhatian: Tidak ada penumpang yg dicurhatin setelah pembuatan cerita ini.
Akhir dari yg di atas, saya nyampe di Bali setelah liburan 1 bulan di tanah kelahiran (HORRE!!). You know? Datang ke Jawa serasa bertamu, datang ke Bali serasa pulang. Di mana kita tumbuh besar dan memiliki banyak teman, di situlah rumah kita. :)
Bener banget tuh kalimat terakhir: Di mana kita tumbuh besar dan memiliki banyak teman, di situlah rumah kita.. Like this!
BalasHapusOoh orang bali toh?
BalasHapuskampung halamannya di bali nih?
BalasHapusitu puisi yang mendekati pantun ya. Bunyi vokal belakangnya, sama ketukannya, kaya pantun. Semoga klo dibacain di depan si kerudung pink dianya bisa klepek-klepek
@feby: kita setubuh eh setuju. .
BalasHapus@inggit: tinggalnya di bali, perantauan.
@[l]ain: iya kali. .:D takut terlalu mellow. .
kalo jadi dongeng bisa ngalahin dongeng kerudung merah nih
BalasHapushmm jadi kampungnya di bali apa di jawa nih? *masi bingung*
BalasHapussalam kenal ya :D
Yooooi selamat datang dan selamat berkenalan denga gue, punya botol kecap gak? B)
BalasHapus